Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

AKU TERPILIH MENJADI MURID KRISTUS!


Nama saya Tyagita Hidayat anak pertama dari dua bersaudara, yang lahir dan besar di kota kembang, Bandung. Saat ini saya sedang menempuh studi di salah satu Perguruan Tinggi Jerman di kota Darmstadt yaitu Technische Universität Darmstadt. Saya pernah mengecap setahun kuliah Arsitektur di Bandung, Universitas Parahyangan. Berasal dari keluarga akademisi. 

Ketika ibu saya sedang mengambil Program Doktor di Jerman saya diajak untuk meneruskan studi di Jerman pada tahun 2010. Setelah diterima di TU Darsmtadt tahun 2011 saya dapat terus mengembangkan bakat dalam karya perancangan seni Arsitektur. Setelah setahun  kuliah dengan prestasi yang cukup baik, saya mendapat berkat beasiswa. 

Pada awalnya, saya mengenal Yesus hanya dari Alkitab untuk Anak-anak yang diceritakan oleh Ibu saya. Bagi saya yang masih kecil saat itu, Yesus adalah pria paling penuh kasih dan tanpa pamrih yang pernah hidup di dunia ini. Semakin besar, saya bisa membaca Alkitab sendiri, sayapun semakin kagum kepada Beliau. Adalah mustahil seseorang dapat memiliki karakter dan kemampuan seperti Dia. Dia pasti bukan sekedar manusia.

Ketika kuliah di Universitas Parahiangan Jurusan Arsitektur, saya diberi kesempatan untuk mengenal Yesus dan Kekristenan secara lebih dalam. Saat itu saya memiliki kakak pembimbing rohani yang mengadakan persekutuan setiap hari Jumat dikala laki-laki muslim beribadah Jumat. Juga mengikuti kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani dan ibadah di berbagai gereja. 

Selain mendalami isi Alkitab, saya juga mendapatkan pelajaran menarik melalui buku kecil 4 Hukum Rohani (4HR) dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadi. Setelah pindah ke Jerman, maka bimbingan rohanipun tidak berlanjut. Saya pikir, titik yang sudah saya raih saat itu adalah titik aman, dimana saya sudah percaya kepada Sang Pencipta dan berbuat kebaikan dengan mengasihi sesama saya. Tetapi saya salah…

Kristen bukanlah suatu agama. Kristen bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya”. Kristen adalah suatu hubungan intim bersama Tuhan Yesus. Untuk memulai hubungan intim dengan Tuhan saya harus merelakan diri saya dimaterai dengan darah-Nya. 

Saya harus menanggalkan cara hidup yang lama, mematikan "ego keakuan" saya dan membiarkan hidup yang baru berlangsung di dalam Kristus dengan penguasaan Roh Kudus. Karena keselamatan abadi adalah anugerah Tuhan bagi seluruh manusia melalui Yesus Kristus, maka menjadi jelas, bahwa manusia tidak dapat mendapatkannya melalui kebaikan ataupun kerja kerasnya yang dilakukan sendiri. 

Semua pengertian ini saya dapatkan dari pengajaran Hamba Tuhan, Ibu Pendeta Yunita Lasut dari gereja Jemaat Kristus Indonesia (JKI) Rhein Main di Frankfurt. Disanalah saya menerima baptisan. Dan saya sangat bersyukur karena saya bisa menjadi bagian dari orang-orang yang mengasihi dan menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan janji Tuhan yang ini pasti akan ditepati-Nya.

Sayangnya kesibukan kuliah mulai sedikit demi sedikit mengambil waktu saya untuk berhubungan dengan Tuhan. Saya ingat akan Tuhan, setiap malam sebelum tidur, setiap saya mau makan, setiap saya gembira ataupun sedih. Tapi iman saya tidak bertumbuh dengan pesat. Apa yang saya ketahui dari Alkitab tidak bertambah. 

Dan saya mulai diperhadapkan dengan teman-teman penganut agama lain yang mempertanyakan hal-hal kekristenan, entah dengan tujuan ingin tahu atau untuk memojokkan. Semua itu menyadarkan saya bahwa masih sangat banyak hal yang tidak dapat saya jawab dan juga belum diketahui. Saya tidak siap untuk bersaksi karena pengetahuan saya kurang.

Tapi Tuhan memperhatikan saya dan memberi saya kesempatan untuk mengenal orang yang dapat membantu pertumbuhan rohani. Sejak saya tinggal serumah bersama Ibu Hendrina Pattiradjawane, yang saat itu bekerja dalam penelitian Arsitektur di TU Darmstadt dan sekaligus juga melayani bersama di Yayasan Doulos, kami mulai secara rutin membaca Firman Tuhan setiap pagi, yang sesekali dilanjutkan dengan diskusi yang berbobot, saya merasa bahwa pandangan saya terhadap Tuhan Yesus dan kekristenan menjadi semakin terbuka. 

Lalu dengan bimbingan beliau saya berkesempatan untuk mengulangi pelajaran 4HR dan dilanjutkan dengan Bimbingan Lanjutan Dasar (BLD) dalam seri 1 sampai 6, yang diselenggarakan dalam suatu persekutuan di rumah bersama dua orang teman seiman. Sejak itu, saya memulai suatu perjalanan hidup, bukan lagi sebagai seorang anak Tuhan, tetapi sebagai murid Tuhan yang haus pengetahuan.

Setelah melalui pelajaran-pelajaran ini saya menjadi semakin banyak tahu mengenai isi Alkitab, sehingga saya dapat menceritakannya kembali kepada orang lain. Saya merasa lebih siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang, tetapi juga tahu kapan saat yang tepat untuk berdiskusi dan kapan saatnya mendiamkan orang yang bermaksud memojokkan. 

Saya merasakan kebutuhan untuk melayani muncul dari dalam diri saya, sehingga selain melayani di gereja, sayapun ikut serta dalam perjalanan misi ke Makassar dan Toraja bersama Yayasan Doulos pada tahun 2013. Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah keyakinan saya yang tidak pernah ragu lagi, bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk mencapai keabadian dan  hidup saya terjamin bersama dan didalam Dia, karena Dia berjanji tidak akan meninggalkan saya sampai selama-lamanya.

Sedikit kelanjutan kesaksian saya, dimana dengan berkat Tuhan Yesus pada musim semi 2015 saya berhasil lulus Bachelor dan terpilih menjadi salah satu dari 4 mahasiswa dengan hasil ujian terbaik pada jurusan yang dibimbing Prof. Kuhn, FB Energieeffizientes & Nachhaltiges Bauen (Jurusan efisiensi energi dan Pembangunan yang berkelanjutan), 3 mahasiswa program Masterdan saya dari program Bachelor dengan mendapatkan penghargaan dari TU Darmstadt dan sponsor Firma Goldbeck, yang bergerak sebagai perancang dan kontraktor serta produsen material bahan bangunan yang ramah lingkunganuntuk kebutuhan proyek yang dirancang. 

Judul Perancangan Bachelor saya adalah “Werkstatt auf Zeit“, yang dalam bahasa Indonesia berarti "Bengkel Masa Kini“, yang menawarkan fleksibilitas baik fisik ruang yang dapat dibongkar pasang maupung jenis kegiatan berbagai kelompok "Bengkel“dan pameran.


Dalam bidang seni pentas, saya memiliki hobby menari. Pada bulan Agustus 2015 saya ikut meramaikan “MainUfer Fest“ atau "Pesta Tepi Sungai Main“ di Frankfurt bersama tim Indonesia dengan membawakan tarian merak dari Jawa Barat. 

Adapun rencana untuk masa depan, saya rindu membaktikan hidup untuk kemuliaan Tuhan melalui karier saya dalam bidang yang berfokus pada kegiatan kegiatan yang dapat membawa berkat bagi banyak orang di Indonesia, seperti pembangunan Perumahan dengan konsep hemat energi da nbahan dan juga ikut mendukung pembangunan Padat Karya yang dapat mengurangi kemiskinan diantara kebanyakan rakyat di negeri tercinta Indonesia.


Kiranya kesaksian saya ini menjadi berkat bagi para pembaca dan terlebih dari semua itu nama Tuhan Yesus yang sudah menjadi Tuhan dan Juru Selamatku dipermuliakan.
Tuhan Yesus MemberkatI !