6 STIGMA YANG KURANG TEPAT TENTANG GANGGUAN JIWA

Para penderita penyakit kronis seperti kanker kerap kali mendapatkan stigma
tertentu, misalnya tidak bisa sembuh atau penyakitnya bisa menular.
Namun hal ini juga sering dirasakan oleh pasien dengan gangguan mental,
bahkan bisa dikatakan lebih parah.
Dampaknya, mereka jadi tidak mau berobat, tidak mau mengakui
kondisinya, ataupun malah dikucilkan oleh masyarakat. Bukannya sembuh,
para penderita gangguan mental ini bisa jadi malah lebih ‘sakit’.
Beberapa Stigma Tentang Gangguan Jiwa Yang Kurang Tepat
Adapun beberapa persepsi atau stigma yang keliru terhadap pasien
dengan gangguan mental yang sering ditemui adalah sebagai berikut :
1. Bisa Menular
Orang-orang dengan gangguan mental umumnya mengalami spektrum emosi
dengan kadar tertentu. Akan tetapi, hal ini sebenarnya disebabkan oleh
produk sampingan dari bahan kimia otak serta diperparah dengan faktor
lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa yang memicu gangguan mental pada
umumnya terjadi di otak, bukan disebabkan oleh penularan bakteri atau
virus seperti halnya flu.
2. Tergolong Penyakit Langka
Ini merupakan persepsi yang tidak tepat, sebab satu dari empat orang
di dunia dapat mengalami gangguan mental pada satu titik hidupnya. Yang
membedakan adalah levelnya yang bermacam-macam pada setiap individu, ada
yang parah hingga perlu direhabilitasi, ada juga yang ringan dan bisa
diatasi dengan minum obat secara rutin.
3. Identik Kekerasan
Sebagian kalangan menganggap bahwa penyakit mental dapat memicu
seseorang untuk melakukan kekerasan. Namun berdasarkan hasil penelitian
yang diadakan pada tahun 2014 menemukan bahwa orang dengan gangguan
mental umumnya merupakan korban dari kejahatan atau kekerasan, bukan
pelakunya.
4. Hanya Imajinasi
Masih banyak persepsi orang yang mengganggap bahwa mereka yang mengalami depresi
ataupun ansietas bisa sembuh atau tenang dengan sendirinya, karena
mereka dapat memilih untuk kambuh atau tidak. Faktanya, mereka juga
menunjukkan gejala fisik tertentu.
Pada mereka yang depresi, mereka
sering mengalami sakit kepala, mengalami perubahan selera makan, dan
mengalami gangguan pencernaan. Sedangan pada mereka yang mengalami
ansietas atau kegelisahan, umumnya mengalami gangguan kardiovaskular,
menurunnya kekebalan tubuh, dan sakit perut.
5. Tidak bisa disembuhkan
Gangguan jiwa yang dialami setiap orang memiliki perbedaan satu
dengan yang lain, sehingga pengobatannya pun juga bervariasi. Hal ini
tergantung dari tingkat keparahan dan gejala-gejala yang ditunjukkan si
pasien. Namun kabar baiknya, gangguan jiwa masih bisa disembuhkan.
6. Dipicu dari masa kecil yang tidak bahagia
Memang, lingkungan pasien tinggal atau bagaimana ia dibesarkan mempunyai peranan penting terhadap munculnya gangguan jiwa.
Namun demikian, masih ada faktor lainnya yang juga ikut berperan.
Dengan kata lain, masa kecil seseorang yang kurang bahagia tidak
sepenuhnya memegang peranan terhadap timbulnya gangguan jiwa.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa beberapa jenis gangguan jiwa bisa
disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Sebagai contoh,
ada gangguan yang dinamakan Seasonal Affective Disorder, di mana jenis gangguan jiwa ini dipicu oleh perubahan musim.
Sumber: artikelkesehatan99.com
