MUSILIMAH IRAK BANTU KRISTEN TERANIAYA
![]() |
| Sarah Ahmed menggendong anak. (Foto: christianpost.com) |
BAGHDAD, Mantan pendeta
St.George Church di Baghdad, Andrew White menjelaskan pengalamannya
bertemu dengan dokter gigi yang menjadi sukarelawan kemanusiaan di
Baghdad, Irak.
Menurut laki-laki yang juga mengepalai salah satu organisasi bantuan kemanusiaan di Irak tersebut – seperti diberitakan Christian Post, hari
Selasa (9/8) – tidak semua pekerja kemanusiaan yang dia pimpin
dikerjakan oleh umat Kristen saja, namun ada beberapa muslimah Irak yang
membantunya, salah satunya adalah seorang dokter gigi Sarah Ahmed.
White menjelaskan pekerjaanya di Baghdad yakni membantu umat Kristen
yang tidak memiliki tempat tinggal karena kediaman mereka dihancurkan
kelompok ekstremis, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
White mengemukakan Sarah Ahmed adalah dokter gigi asal Irak yang
selama beberapa tahun terakhir telah mencurahkan waktunya untuk
bepergian di seluruh Irak untuk membawa pakaian, obat-obatan, makanan,
perlengkapan kebersihan yang dibutuhkan penduduk Kristen, Yazidi,
Muslim dan lain-lain yang tempat tinggalnya dihancurkan ISIS.
“Dia melindungi semua orang Kristen Irak. Pasti sulit bagi kita membayangkan tentang hal itu,” kata White.
White menjelaskan pekerjaan yang dilakukan Sarah Ahmed secara singkat dapat disebut sebagai kepedulian Muslim untuk Kristen.
Banyak orang akan bertanya-tanya jika Irak dan beberapa negara lain
di sekitarnya telah dikuasai ekstremis, menurut White pertanyaan
tersebut wajar karena masyarakat di dunia menganggap umat Muslim
bermusuhan dengan penganut agama lainnya.
Ahmed, yang kini direktur operasi untuk Yayasan yang dimiliki White
dan didirikan di Timur Tengah, menceritakan pengalamannya beroperasi di
Irak bagian Utara untuk memastikan kebutuhan penduduk yang
teraniaya tidak diabaikan.
“Saya orang yang sangat setia,” kata Ahmed.
Dia percaya pekerjaan kemanusiaan yang dia lakukan berasal dari
itikad baik. “Saya tidak ada motif mencari ketenaran atau uang atau apa
pun,” kata dia.
Ahmed merasa Tuhan selalu ada untuk melindungi dia dan banyak orang
di sekitarnya, sehingga Tuhan selalu memberi kekuatan pada Ahmed untuk
dapat pergi menjangkau semua orang di daerah tersebut.
“Saya paham saat ini banyak orang memberi stigma negatif tentang
Islam tapi Islam yang saya percaya adalah agama yang sangat damai dan
percaya dalam membantu orang lain,” kata Ahmed.
Ahmed mengibaratkan pekerjaannya seperti orang yang sulit tidur,
apabila memiliki tetangga yang kelaparan dan menderita. “Saya harus
turun tangan. Saya percaya semua Muslim dan semua umat beragama di dunia
harus melakukan sesuatu kepada kehidupan,” kata dia.
Ahmed berasal dari Baghdad, dia menempuh studi kedokteran gigi di Amerika Serikat pada 2010.
Saat berpartisipasi dalam ajang dialog lintas agama Yahudi, Kristen dan Islam, Ahmed bertemu White di New York.
Ahmed memperkenalkan dirinya kepada White dengan mengatakan
berinisiatif membangun perdamaian hubungan antara rakyat Amerika Serikat
dan Irak.
White kemudian menawarkan posisi sukarelawan di yayasan tersebut.
Awalnya Ahmed ragu ingin membantu, karena yayasan tersebut adalah
yayasan Kristen, sementara Ahmed adalah muslimah, namun akhirnya Ahmed
setuju dengan tawaran tersebut.
Ahmed pertama kali bekerja sebagai sukarelawan di klinik di Baghdad,
dia merasa nyaman walau bekerja di badan amal Kristen dan tinggal di
dalam gereja.
“Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya tentang perbedaan keyakinan,” kata Ahmed.
Ahmed sekarang bertanggung jawab untuk mengatur dan memberikan
makanan dan kebutuhan untuk pengungsi di seluruh wilayah Kurdi –
penduduk Suku Kurdi saat ini banyak yang tidak memiliki tempat tinggal
karena dijajah ekstremis ISIS.
Ahmed menuturkan biasanya dia melakukan perjalanan dari Erbil ke Kirkuk, ke Duhok kemudian ke Gunung Sinjar.
Selain memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, Ahmed
juga menjalankan program untuk anak perempuan yang telah diperkosa dan
diperkerjakan sebagai budak seks kelompok ekstremis.
Menurut dia – dari dialog yang dilakukan Ahmed dengan penduduk
sekitar – warga suku teraniaya tersebut mengalami ketakutan kelompok
ekstremis datang kembali.
“Mereka takut ekstremis akan membinasakan mereka atau menjajah rumah mereka,” kata dia.
Secara umum, Ahmed mengatakan harapan hidup sangat sedikit bagi pengungsi, terutama untuk orang Kristen. (christianpost.com)
Sumber: satuharapan.com

