Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Potret Wisata Indonesia di ‘Tanah Dewa’


Berbicara soal wisata Indonesia, satu hal yang langsung terlintas adalah Bali. Bahkan, saking populernya, publik internasional jauh lebih mengenal Bali dibanding Indonesia.

"Bali lebih dikenal daripada Indonesia," kata Olla Chas, petinggi Indonesian Community of New England atau ICONE, saat berkorespondensi dengan CNNIndonesia.com, Oktober lalu.
 
Soal masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali, sebenarnya wajar saja. Panorama alam Pulau Dewata itu memang indah, kental budaya lokal, masyarakatnya pun ramah pada pendatang. Bukan hal yang aneh juga bila banyak yang ketagihan datang ke Bali, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, jalan Bali jadi pusat wisata di Indonesia tidaklah mudah. Industri pariwisata di Bali sudah dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. 

Akulturasi budaya lokal dengan agama Hindu dan penyatuan Nusantara oleh Majapahit, membuat Bali memiliki keunikan budaya yang terpatri dalam tata kehidupan, agama, hingga seni.
 
Bali kemudian mulai dikenal orang asing sejak penaklukan Kerajaan Klungkung oleh Belanda melalui perang Puputan Badung pada 1906. Kekalahan tersebut membuat Bali jatuh di bawah penguasaan Belanda dan membuka gerbang kedatangan orang Eropa ke Tanah Para Dewa. 

Pantai di Nusa Penida, Bali. Pantai ini tengah jadi primadona karena cenderung lebih tenang dan sepi dibandingkan Kuta dan Legian yang sesak oleh pengunjung. (Trubavin/Thinkstock)
 Keindahan dan budaya unik Bali memukau para meneer en mevrouw Belanda. Arthur Asa Berger dalam bukunya Bali Tourism (2013) mengutip tulisan Vicker (1990) yang menyatakan Bali di kala awal 1900, sudah menarik pandangan Barat sebagai daerah yang ‘liar’.

Citra ‘liar’ Bali itulah yang membuat para pelancong Eropa penasaran. Sejarah mencatat, pada 1924 sudah ada pelayaran oleh KPM atau maskapai pelayaran kerajaan Belanda yang sengaja memperlihatkan Bali pada turis. Pelayaran tersebut bermula dari Singapura, Batavia (kini Jakarta), Semarang, Surabaya, singgah ke Buleleng (Bali), lalu lanjut ke Makassar. 

Belanda bahkan membuka kantor khusus kepariwisataan di Bali saat itu. Secara rutin, badan kepariwisataan Belanda itu mencatat jumlah pelancong yang datang. 

Pada 1924 sudah ada 213 pelancong berkunjung. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahun. Majalah Tourism in NetherlandsEast Indies edisi 8 Februari 1927 melaporkan ada 480 wisatawan datang ke Bali. Dengan kata lain, pada waktu itu, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mengalami peningkatan hingga 225 persen, hanya dalam selang waktu 3 tahun.

Para pengunjung yang kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika Utara, menganggap Bali kala itu adalah 'intisari' Asia yang misterius. 

Iseh at Dawn, Walter Spies. Dok. Wikimedia Commons/Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures
Promosi wisata Bali pada waktu itu juga terbilang jor-joran. Bukan hanya lewat penawaran pelayaran, referensi wisatawan juga datang dari karya pelukis dan musikus Jerman kelahiran Rusia, Walter Spies, yang menetap di Bali pada 1927 hingga Perang Dunia II.

Spies memiliki peran besar mengenalkan daya tarik Bali lewat lukisannya, mulai dari panorama hutan dan sawah menghijau, hingga eksotisme para gadis Bali, yang terus ikonik hingga kini.

Saking banyaknya wisatawan yang datang, Bali pun mulai membangun penginapan. Tahun 1930, hotel pertama berdiri. Terletak di jantung Denpasar, Bali Hotel dibangun dengan gaya kolonial. Hotel itu kini menjadi tonggak awal dimulainya Bali sebagai lokasi tujuan wisata.

Gelap Terang Sang ‘Denpasar Moon’

Tahun 1941, saat Perang Dunia II pecah, Bali ikut merasakan dampaknya. Selama nyaris dua dekade setelah itu, pamor Bali sebagai destinasi wisata tenggelam, tergerus perang. Saat itu, Bali punya slogan tersendiri, surga terakhir.

Siapa nyana slogan itu jugalah yang membangkitkan wisata Bali. Utami Suryadarma dari Harian Merdeka, pada 3 September 1951, menulis soal Bali. Ia tertarik datang karena terpengaruh iklan reklame dan propaganda untuk wisatawan agar datang ke ‘surga terakhir’.
 
"Harmoni timbul dimana ada imbangan-imbangan jang sehat dalam mentjukupi kebutuhan-kebutuhan djasmani dan kebutuhan djiwa sesuatu rakjat. Sistem gotong royong terwujud dalam “bandjar”, mendjamin kebutuhan meteriel rakjat Bali, dan kebudajannja, keseniannja jang tinggi mengisi djiwanja…" tulis Utami menggambarkan kekaguman budaya Bali kala itu.

Perlahan, wisata Bali kembali hidup. Pembangunan ikut gencar. Hotel-hotel baru bermunculan, salah satunya Hotel Bali Beach berlantai 10 di Pantai Sanur, yang jadi bangunan paling tinggi di eranya. 
 
Tidak hanya hotel, bandara pun turut dibangun. Membutuhkan waktu enam tahun, dari 1963-1969 mempersiapkan Bandar Udara Tuban, yang kemudian berganti nama menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai. Tidak main-main, pemerintah Indonesia mereklamasi pantai sejauh 1,5 kilometer demi membangun runway standar pelabuhan udara internasional. 

Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Dok. bali-airport.com

Pembangunan juga dilakukan untuk fasilitas hunian. Hal ini berlandaskan dari kerja sama Pemerintah Indonesia dengan bantuan Program Pengembangan PBB atau UNDP pada 1971 untuk mengembangkan pariwisata Bali. Program tersebut berupa studi pembangunan yang dilaksanakan oleh SCETO, konsultan asal Perancis.

Berdasarkan rilis Bali Tourism Development Corporation (BTDC), studi tersebut menyarankan Bali untuk dibangun lebih banyak hotel taraf internasional guna menampung wisatawan asing yang terus berdatangan. Tercatat pada 1975 diperkirakan ada 1800 kamar di daerah Kuta dan Sanur, sedangkan studi menilai perlu ada 3800-4700 kamar standar internasional hingga 1980.
 
Studi juga merekomendasikan pembanguan kesejahteraan masyarakat Bali berlandaskan pariwisata. Dengan kata lain, tidak boleh mengorbankan nilai kebudayaan serta struktur sosial kehidupan masyarakat Bali dan lingkungan hidup, mengingat hal tersebut adalah magnet wisatawan asing.

Salah satu hasil lainnya dari studi tersebut adalah dibentuknya Badan Pengembangan Rencana Induk Pariwisata Bali dan Master Plan Pariwisata Bali. Di bawah naungan PP. No 72 Tahun 1972, badan tersebut kemudian berkoordinasi dengan BTDC mengundang partisipasi hotel berjaring internasional, pengadaan festival budaya dan hiburan lainnya, serta sinkronisasi pembangunan dengan estetika lanskap Bali.

Fasilitas yang terus bertambah, promosi yang gencar, dan akses yang sudah terhubung mendorong pariwisata Bali semakin jauh. Dekade 70-80-an, Bali semakin kebanjiran wisatawan. 

Berdasarkan laporan Dinas Pariwisata Bali (2006), pertumbuhan kunjungan wisatawan asing langsung ke Bali selama Repelita I (1969-1973) mencapai lebih dari 170 ribu kunjungan. 

Angka tersebut berkembang menjadi 500.786 pada Repelita 2 (1974-1978), kemudian jadi 748.523 pada Repelita 3 (1979-1983), dan mencapai 1,3 juta pada Repelita 4 (1984-1988), lalu melonjak lagi jadi 3,107 juta pada Repelita 5 (1989-1993).Hingga 1998, di masa Orde Baru berakhir, jumlah wisman yang datang ke Bali sebesar 5,6 juta orang atau naik 80 persen dibanding lima tahun sebelumnya.

Sejak 1980, pertumbuhan hotel di Bali terus meningkat. Kini berbagai jenis penginapan mulai hostel, losmen, hotel, villa hingga resor, mudah ditemukan di Pulau Dewata. (Reuters/Olivia Rondonuwu)
Tak heran bila kemudian pesona Bali diabadikan dalam lagu berjudul ‘Denpasar Moon’ yang dipopulerkan Maribeth di era 90an.

Daya tarik Bali yang kuat ini, tentu saja mendongkrak nilai pariwisata Indonesia. Bali secara konsisten menyumbang 22-29 persen angka kunjungan wisman ke Indonesia. 

Sayangnya, situasi itu tidak bertahan lama. Wisata Bali kembali terpuruk akibat kondisi sosial-politik yang terjadi, baik di lokal Bali, Indonesia, maupun dunia.  

"Setelah terpuruknya pariwisata Bali akibat krisis multidimensi tanah air (mulai tahun 1997), aksi terorisme internasional (WTC, 2001) dan berbagai tragedi yang terjadi mengakibatkan pariwisata Bali dihadapkan pada kondisi sulit dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir," tulis Dinas Pariwisata Bali dalam laporan pada 2006 lalu.

Namun sejak saat itu, pariwisata Bali kembali diminati wisman, kendati jumlah kunjungan masih fluktuatif. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat kunjungan langsung wisman ke Bali pada 2006 adalah 1,2 juta, lalu meningkat jadi 2,8 juta pada 2011 dan berkembang menjadi 3,7 juta pada 2014 lalu.
Sayangnya, angka pertumbuhan rata-rata kunjungan wisman sepanjang 2006-2014 turun dibanding sebelum milenium baru atau hanya sekitar 12,2 persen setiap tahun. 


Infografis: Laudy Gracivia

Butuh ‘Bali’ Baru

Turunnya kunjungan wisman ke Bali itulah yang membuat pemerintah mencari strategi baru guna meningkatkan devisa pariwisata.

Bali memang masih jadi gerbang pariwisata Indonesia. Namun, Indonesia bukan hanya Bali. Masih banyak potensi wisata yang bisa digali, mulai dari Sabang sampai Merauke. 

Melihat potensi tersebut, Presiden Joko Widodo menetapkan strategi baru untuk pengembangan pariwisata Indonesia. Salah satunya adalah penetapan sepuluh destinasi baru yang tersebar di penjuru Indonesia. Jokowi berambisi menciptakan ‘Sepuluh Bali Baru’.

"Semua lokasi pariwisata pasti akan dibangun tetapi tentu ada prioritas dari sisi waktu. Untuk sekarang ada sepuluh destinasi pertama," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya usai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, September 2015 lalu.

"Kesepuluh destinasi pertama ini sudah masuk rencana pembangunan pelabuhan, bandara, dan akses menuju ke sana. Kami harapkan orang luar tidak hanya mengenal Bali, istilahnya, menjadi Bali-Bali lainnya,” lanjut Arief.

Ide menambah 'Bali Baru' ini tidak datang tanpa pertimbangan. Menurut paparan strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas 2016-2019 milik Kementerian Pariwisata, turisme adalah sektor 'tahan banting' meski beberapa kali dilanda krisis.

Ini didasarkan jumlah perjalanan wisata dunia yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Data World Tourism Organization menyebut pada era 50an, terdapat 25 juta pelancong dunia. Angka itu berkembang menjadi 528 juta pelancong pada 1995, dan terus bertambah hingga 1,4 miliar orang melakukan perjalanan wisata pada 2014. Padahal dunia tidak sepi dari krisis selama enam dekade terakhir.

Kembali ke Indonesia, pada 2014 Kementerian Pariwisata mencatat pariwisata menyumbang sembilan persen pada PDB Indonesia, devisa senilai Rp140 Triliun, dan 11 juta kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia. 

Sayangnya, dibanding negara tetangga, angka tersebut terbilang minim. Jika Indonesia dikunjungi 9 juta wisman pada 2014, Singapura punya angka kunjungan 15,1 juta, Thailand sebesar 24,8 juta dan Malaysia dikunjungi 27,4 juta wisman.

Padahal, berdasarkan indeks daya saing pariwisata World Economic Forum, Indonesia punya potensi besar. Dari aspek sumber daya alam, Indonesia berada di urutan 19 bersaing ketat dengan Thailand di peringkat 16 dan Malaysia di posisi 26. Dari aspek sumber daya budaya dan usaha bisnis, Indonesia unggul di posisi 25, Malaysia di posisi 27 dan Thailand di urutan 34.

Kementerian Pariwisata mencatat, kelemahan Indonesia adalah dari aspek keamanan dan keselamatan, kebersihan dan higienitas, tekonologi informasi, keberlanjutan lingkungan hidup, infrastruktur darat dan laut, serta infrastruktur penunjang jasa pariwisata.

Hingga saat ini, hanya beberapa destinasi di Indonesia yang terbilang ramah pada wisatawan. Sisanya, masih banyak terkendala akses dan infrastruktur.

Oleh karena itulah pembangunan di Sepuluh Bali Baru terus digenjot. 

Kesepuluh destinasi ini menyebar dari barat hingga timur Indonesia. Mulai dari Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Kawasan Gunung Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Morotai di Maluku Utara, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Lewat Sepuluh Bali Baru itu, targetnya adalah mencapai angka 20 juta kedatangan wisatawan mancanegara dan 275 juta perjalanan wisatawan domestik pada 2019 nanti. Tujuannya agar pariwisata Indonesia bisa berkontribusi terhadap PDB sebesar 15 persen, mendatangkan devisa hingga Rp280 triliun, dan menghadirkan 13 juta lapangan pekerjaan.




Sumber: cnnindonesia.com
Penulis: Endro Priherdityo | Editor: Lesthia Kertopati