Pesan politik Jokowi-Prabowo kepada 'aktor politik' di balik isu demo 'jilid dua'
![]() |
| Prabowo Subianto menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/11) siang. |
Pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua
Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Kamis (17/11) dianggap sebagai
semacam peringatan kepada aktor-aktor politik agar tidak memanfaatkan
kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Ahok untuk kepentingan
politik mereka, kata seorang pengamat.
"Memang ada upaya dari
kelompok tertentu yang mungkin dipercaya oleh Pak Prabowo, Pak Jokowi
dan Ibu Megawati, yang ingin mengganggu stabilitas politik di negara
ini," kata pengamat politik Yunarto Wijaya dalam wawancara dengan BBC
Indonesia, Kamis malam.
Prabowo menemui Presiden Jokowi di Istana
Merdeka, di tengah gejolak politik yang berkepanjangan terkait dugaan
penistaan agama dengan tersangka Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki
Tjahaja Purnama atau Ahok.
Walaupun Ahok telah dijadikan
tersangka kasus dugaan penistaan agama, di masyarakat terlanjur merebak
isu unjuk rasa susulan pada 25 November nanti.
Usai pertemuan, Jokowi kembali menegaskan agar perbedaan politik akibat kasus Ahok itu tidak merembet menjadi perpecahan bangsa.
"Kita
tidak menginginkan kita terpecah-belah gara-gara perbedaan politik,
karena sangat mahal harganya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI)," tegas Joko Widodo.
Hal ini juga diamini Prabowo, "Perbedaan politik itu hal biasa, tidak boleh jadi masalah dan perpecahan (yang) berkelanjutan."
Dan
menurut Yunarto, dari hasil pertemuan Jokowi-Prabowo dan isi pernyataan
Megawati Sukarnoputri di tempat terpisah, menyatakan bahwa mereka akan
melawan aktor politik yang memanfaatkannya.
"Mereka itu sebenarnya menegaskan bahwa ini harus dilawan bersama," kata Yunarto.
Kasus kerusuhan agama
Sebelumnya,
dalam jumpa pers resmi di kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,
Megawati Sukarnoputri mengatakan, dirinya meminta masyarakat menghormati
penyelesaian hukum kasus Ahok.
Megawati juga meminta masyarakat
tidak menarik kasus Ahok dalam konflik sektarian sambil mencontohkan
kasus kerusuhan berlatar agama di Maluku, sekitar 15 tahun silam.
"Seperti
apa luka yang terjadi pada waktu itu. Ketika para ibu-ibu itu banyak
yang menjadi janda, dan anak-anak menjadi tidak terpelihara. Apakah itu
yang mau dilakukan Indonesia?" tegas Megawati.
"Mereka itu sebenarnya menegaskan bahwa ini harus dilawan bersama," kata Yunarto.
Yunarto
menduga, sikap bersama yang ditunjukkan tiga tokoh politik itu sebagai
respons atas isu unjuk rasa susulan pada 25 November terkait kasus
penistaan agama dengan tersangka Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki
Tjahaja Purnama.
Apalagi, "Kapolri sudah mengatakan bahwa kalau
ingin dipaksakan demo lagi, ketika Ahok sudah menjadi tersangka, artinya
itu sudah bisa dikatakan cara-cara yang cenderung inkostitusional,"
jelasnya.
Ditunggangi
Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mengatakan aktor politik disebutnya menunggangi unjuk rasa 4 November yang berakhir ricuh.
Presiden
tidak pernah menyebut siapa yang dimaksud identitas aktor politik
tersebut. Namun dalam perkembangannya, kepolisian kemudian menangkap
sejumlah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dianggap menyerang
aparat saat demo berlangsung.
Dalam berbagai kesempatan, pejabat
kepolisian berjanji untuk menyelidiki apakah ada kelompok lain di balik
penangkapan aktivis HMI tersebut.
Lebih lanjut menurut Yunarto,
peringatan yang dilontarkan Jokowi, Prabowo dan Megawati itu diharapkan
dapat dijadikan pertimbangan kelompok-kelompok yang ngotot untuk berdemo pada 25 November nanti.
![]() |
| Presiden Joko Widodo bertemu kembali dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (17/11) siang. |
Berbagai organisasi Islam yang terlibat dalam demo awal November sebagian bereaksi positif atas status tersangka Ahok.
Akan tetapi di antara mereka belum ada kesepakatan apakah perlu menggelar unjuk rasa susulan pada 25 November nanti.
Dua
ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,
sudah menyatakan menolak terlibat jika unjuk rasa pada 25 November itu
digelar.
Pimpinan dua ormas Islam itu menyerahkan sepenuhnya
penyelesaian kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Gubernur DKI
non aktif Basuki Tjahaja Purnama kepada kepolisian.
.bbcindonesia.com



